Khutbah tentang surah Ali Imran 190-191
KHUTBAH PERTAMA :
إنَّالْحَمْدَللهنَحْمَدُهُوَنَسْتَعِيْنُهُوَنَسْتَغْفِرُهُ،وَنَعُوْذُباللهمِنْشُرُوْرِأَنْفُسِنَاوَمِنْسَيِّئَاتِأَعْمَالِنَا،مَنْيَهْدِهِاللهفَلَامُضِلَّلَهُوَمَنْيُضْلِلْفَلَاهَادِيَلَهُ،أَشْهَدُأَنْلَاإلهإلااللهوَحْدَهُلَاشَرِيْكَلَهُ،وَأَشْهَدُأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَالَّذِينَءَامَنُوااتَّقُوااللهحَقَّتُقَاتِهِوَلاَتَمُوتُنَّإِلاَّوَأَنتُممُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَاالنَّاسُاتَّقُوارَبَّكُمُالَّذِيخَلَقَكُممِّنْنَفْسٍوَاحِدَةٍوَخَلَقَمِنْهَازَوْجَهَاوَبَثَّمِنْهُمَارِجَالاًكَثِيرًاوَنِسَآءًوَاتَّقُوااللهَالَّذِيتَسَآءَلُونَبِهِوَاْلأَرْحَامَإِنَّاللهكَانَعَلَيْكُمْرَقِيبًا
يَاأَيُّهَاالَّذِينَءَامَنُوااتَّقُوااللهوَقُولُواقَوْلاًسَدِيدًا . يُصْلِحْلَكُمْأَعْمَالَكُمْوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْوَمَنيُطِعِاللهَوَرَسُولَهُفَقَدْفَازَفَوْزًاعَظِيمًا
أَمَّابَعْدُ: فَإِنَّأَصْدَقَالْحَدِيْثِكِتَابُاللهوَخَيْرَالْهَدْيِهَدْيُمُحَمَّدٍصلىاللهعليهوسلموَشَرَّالْأُمُوْرِمُحْدَثَاتُهَا،وَكُلَّمُحْدَثَةٍبِدْعَةٌ،وَكُلَّبِدْعَةٍضَلَالَةٌ،وَكُلَّضَلَالَةٍفِيالنَّارِ. اللهمصَلعَلَىمُحَمدٍ،وَعَلَىآلِهِوَصَحْبِهِوَسَلمْ
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan yang
mulia ini, di tempat yang mulia, dan di hari yang mulia ini, marilah kita
selalu menjaga dan meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketakwaan kita kepada
Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang dibangun karena mengharap
keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala dan bukan keridhaan manusia, ketakwaan yang
dilandasi karena ilmu yang bersumber dari al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah, dan
ketakwaan yang dibuktikan dengan amal perbuatan dengan cara menjalankan setiap
perintah Allah dan NabiNya karena mengharap rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dan
berusaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan
Allah dan NabiNya karena takut terhadap azab dan siksa Allah Subhanahu
Wata’ala.
Thalq bin Habib Rahimahullah seorang
tabi'in, suatu ketika pernah menuturkan sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah di dalam Fatawanya,
اَلتَّقْوَى: أَنْتَعْمَلَبِطَاعَةِاللهعَلَىنُوْرٍمِنَالله،تَرْجُورَحْمَةَاللهوَأَنْتَتْرُكَمَعْصِيَةَاللهعَلَىنُوْرٍمِنَالله،تَخَافَعَذَابَالله.
"Takwa
adalah kamu mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah,
kamu mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan
cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah."
Demikianlah seharusnya yang selalu
ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim, sehingga akan membawa dampak
dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi yang istiqamah dan iltizam (konsisten)
terhadap agamanya sehingga pada akhirnya akan membentuk keluarga dan komunitas
masyarakat yang senantiasa berjalan di atas manhaj dan jalan yang lurus. Dengan
demikian, Allah Subhanahu Wata’ala akan memberikan kehidupan yang baik di dunia
serta memberikan balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah diperbuat
di akhirat kelak sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wata’ala janjikan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada surat ali imran ayat 190 Allah mengajak manusia
untuk berpikir dan merenungi tentang penciptaan langit-langit dan bumi.
Kemudian pada ayat berikutnya Allah Swt menjelaskan hasil dan buah dari
berpikir ini.
Ayat ini menjelaskan tentang keesaan Tuhan Sang Pencipta dan menyatakan bahwa
apabila manusia memikirkan dengan cermat dan menggunakan akalnya terkait dengan
proses penciptaan langit-langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam,
maka ia akan menemukan tanda-tanda jelas atas kekuasaan Allah Swt; maha karya
dan rahasia-rahasia yang menakjubkan yang akan menuntun para hamba kepada Allah
Swt dan hari Kiamat serta menggiring mereka pada kekuasaan Ilahi yang tak
terbatas.
Abstrak dan ringkasan makna dua ayat ini adalah demikian; mereka yang
menyaksikan, didasari dengan pemikiran dan perenungan, penciptaan langit-langit
dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, pemikiran dan perenungan ini
menyebabkan mereka senantiasa akan mengingat Tuhan. Dengan perantara ini mereka
akan menyadari bahwa Allah Swt segera akan membangkitkan mereka dan atas dasar
itu ia memohon rahmat-Nya serta meminta supaya janji yang diberikan kepada
mereka dapat terealisir baginya.
Sidang jum’ah muslimin rohimakumullah
Salah satu jalan terbaik untuk mengenal Tuhan adalah
jalan yang dijadikan Allah Swt sebagai agumen atas diri-Nya sendiri dan jalan
itu adalah memberdayakan akal untuk mengenal Sang Pencipta; artinya apabila
manusia memanfaatkan dan memberdayakan akalnya dan memikirkan tentang
penciptaan semesta, pelbagai keajaiban penciptaan dan keteraturan yang
mendominasi penciptaan maka ia akan terbimbing memahami keesaan Sang Pencipta
alam semesta ini dan mengakui tentang kebijaksanaan dan keagungan ciptaan-Nya.
Berpikir adalah salah satu tipologi terpenting manusia. Berpikir merupakan
salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Ilahi yang dianugerahkan Tuhan kepada
manusia dan berulang kali al-Quran menyeru manusia untuk menggunakan akal dan
pikirannya.
Ayat ini merupakan seruan kepada manusia untuk berpikir tentang proses
penciptaan semesta.[1] Ayat
ini disertai dengan ayat-ayat serupa,[2] menetapkan
tentang keesaan Sang Pencipta. Karena apabila seseorang mencermati dan
memikirkan tentang proses penciptaan langit-langit dan bumi, maka ia akan
menemukan tanda-tanda terang atas kekuasaan Allah Swt; maha karya dan
rahasia-rahasia yang menakjubkan yang akan menuntut para hamba kepada Allah Swt
dan hari Kimaat serta menggiring mereka pada kekuasaan Ilahi yang tak terbatas.
Manusia apabila memikirkan tentang proses penciptaan langit dan bumi, akan
menemukan bahwa seluruh ini tadinya tiada kini mengada (baca: hadits) dan memerlukan pencipta dan Khaliq. Pencipta
mereka adalah Tuhan; karena pada sistem penciptaan yang menakjubkan, terdapat
rahasia-rahasia dan ilmu yang tidak dapat dilakukan selain seorang yang
Mahabijaksana. Karena itu, pencipta semesta ini tentulah seorang Pencipta Yang
Mahabijak, Mahamengetahui dan tersifati dengan sifat-sifat sempurna dan agung.
Salah satu ayat dan tanda penciptaan-Nya yang dirasakan oleh setiap manusia
adalah silih bergantinya siang dan malam yang berputar berdasarkan sistem yang
akurat dan cermat serta memiliki pengaruh, keberkahan dan pengaruh yang dapat
dirasaan oleh tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Ayat-ayat ini dan ayat-ayat
yang serupa berbicara tentang hal ini.
Tatkala orang-orang musyrik Mekkah datang kepada Rasulullah Saw dan meminta
mukjizat untuk menetapkan keberadaan Tuhan dan kenabian Muhammad. Salah satu
usulan mereka yang disampaikan kepada Rasululah Saw, “Ubahlah gunung Shafa
menjadi emas.” Allah Swt menjawab permintaan mereka, “Penciptaan langit-langit
dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, sangat penting untuk dapat
menetapkan Sang Pencipta bagi orang-orang yang berakal; artinya apabila manusia
menggunakan akal dan memberdayakan pikirannya maka hal itu akan membimbingnya
kepada Sang Pencipta. Apakah mungkin langit-langit dan bumi, segala ciptaan
yang menakjubkan yang ada di dalamnya, dapat mengada tanpa ada yang mengadakannya?
Apakah mungkin dapat diterima siang dan malam yang datang silih berganti secara
teratur pada setiap bulan dan tahun bahkan sedetik pun tidak pernah menyelisih
siklus perputarannya dapat sedemikian teratur tanpa pencipta yang berkuasa?
Apakah penciptaan makhluk-makhluk seperti ini lebih penting atau gunung Shafa
yang ingin dirubah menjadi emas?
Apa yang dapat dijadikan sebagai penafsiran ayat mulia ini secara global dapat
dikatakan bahwa ayat ini menunjukkan tentang masalah tauhid dan menyatakan,
“Langit-langit ini yang berada di atas kita dan menaungi kita, dengan segala
kecermatan dalam penciptaannya dan bumi yang memeluk kita dan alas yang kita
jejaki di atasnya, dengan segala keajaibannya, dengan segala keanehan dalam
perubahan-perubahannya, misalnya silih bergantinya siang dan malam, segala
sesuatunya memerlukan Sang Pencipta yang mengadakan dan menciptakannya. Hal ini
merupakan salah satu argumen (burhân) yang dapat
disuguhkan pada ayat ini terkait dengan masalah tauhid.
Argumen lainnya adalah sistem dan mekanisme yang berlaku di alam semeta; hasil
dari argumen ini perut bumi dari sisi berat, kecil dan besarnya, jauh dan
dekatnya masing-masing berbeda. Apabila manusia mencermatinya, maka ia akan
menyimpulkan bahwa sedemikian menakjubkan dan indahnya sistem yang berlaku di
alam semesta, alam dengan segala keluasaanya dari sisi mana pun memberikan
pengaruh pada sisi lainnya, setiap bagian-bagiannya yang dapat mengada di
setiap tempat, terpengaruh pada bagian-bagian lainnya, gravitasi umumnya yang
satu sama lain saling bertautan, demikian juga cahaya dan panasnya, dengan
pengaruhnya yang menggerakan gerak dan zaman.
Sistem umum dan general ini berada di bawah satu aturan yang permanen dan
bahkan hukum relativitas pun memandang gerak umum di alam semesta ini
senantiasa berubah. Hukum relativitas mau-tak mau mengakui bahwa ia juga
didominasi oleh hukum lain, yaitu aturan yang permanen yaitu adanya perubahan
dan pergantian.
Ringkasan makna dua ayat ini: mereka yang memandang langit-langit dan
bumi serta silih bergantinya siang dan malam dengan pikiran dan perenungan maka
perenungan ini akan melahirkan dzikir kepada Allah Swt sehingga dalam perbagai
kondisi, berdiri, duduk, diam, menyaksikan dengan seksama seluruh makhluk yang
ada di alam semesta yang akan membimbing mereka dari makhluk yang paling kecil
pada keberadaan sosok Perencana dan Pelukis alam semesta.
Peta yang menarik yang nampak pada setiap sudut dan sisi penciptaan semesta,
sedemikian menyedot perhatian orang-orang berakal sehingga pikiran-pikirannya
dalam setiap kondisi, baik berdiri, duduk, diam dan seterusnya mengingat Tuhan
Sang Pencipta.
Pada setiap fenomena yang disaksikan, ia belajar sebuah pelajaran tauhid yang
baru dan dari sketsa indah alam semesta ia memahami pencipta-Nya yang sama
sekali tidak menciptakan semesta yang menakjubkan ini dengan sia-sia dan tanpa
tujuan.
Orang-orang berakal, hasil dari pikiran dan renungan seperti ini ia tidak akan
melupakan Tuhan dalam setiap kondisi dan dengan perantara itu ia akan
mengetahui bahwa Allah Swt akan segera memebangkitkan mereka dan atas dasar itu
memohon rahmat Ilah dan memohon supaya janji Ilahi dapat segera terrealisir
baginya.[3]
[1]. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”
Nampaknya yang dimaksud sebagai “kha-lq” di sini adalah
kualitas wujud, pengaruh, gerak dan diam, berubahnya langit dan bumi, bukan
pengadaannya. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 4, hal. 87, Daftar
Intisyarat Islami, Qum, 1417 H.
[2]. Seperti
ayat 164 surah al-Baqarah, “Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di
laut dengan membawa apa yang berguna bagi manusia, air yang Allah turunkan dari
langit, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering-kerontang),
dan Dia tebarkan segala jenis hewan di atas bumi itu, dan pengisaran angin dan
awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda
(keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
khubah ke 2
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إلا ِالله وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ
إنَّ الله وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى
آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.